Saturday, 18 November 2017

Sejarah dibalik Arsitektur Istana Air Taman Sari, Yogyakarta


Water Castel Taman Sari_Doc : Foto Pribadi


Yogyakarta merupakan salah satu Kota di Indonesia yang penuh sejarah. Kurang lengkap rasanya tidak berkunjung ke salah satu tempat sejarah yang ada di Yogyakarta yaitu Istana Air Taman Sari terletak di Jalan Taman, Kraton, Yogyakarta. Bangunan ini hanya sekitar 500 meter dari Kraton Yogyakarta.

Ini merupakan lanjutan dari trip Pantai Depok yang ada di post sebelumnya. Berarti tau kan ini trip keberapa di hari ini?πŸ˜… Yupzz…ini adalah trip ketiga di hari Ke-3 di Yogyakarta. Setelah berpanas ria di Pantai Parangtritis dan Pantai Depok, sekarang kita ngadem di Istana Air Taman Sari atau bahasa kerennya disebut juga Water Castel

Sebelum masuk wisatawan wajib membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang (domestik) dan Rp 7.000 (mancanegara). Jika kita membawa kamera DSLR, SLR, dan sejenisnya untuk berfoto diwajibkan membayar lagi sebesar Rp 2.000. Sebenarnya saya juga kurang mengerti, faedahnya untuk apa membawa kamera saja harus bayar lagi πŸ˜…Hehe… Karena saya membawa kamera DSLR, jadi, saya membayar Rp 7.000 untuk masuk Istana Air ini.

Sesampainya di Istana Air ada beberapa orang yang menawarkan jasanya sebagai pemandu untuk mengantarkan serta menjelaskan sejarah-sejarah yang pernah terjadi disini. Biasanya wisatawan membayar jasa mereka mulai dari Rp 50.000. Namun, saya dan teman tidak memakai jasa pemandu. Karena memang tidak niat berlama-lama dan mengelilingi semuanya juga. Maklum, saat itu badan kurang sehat.

Konon, Istana Air ini dibuat oleh seorang arsitek berkebangsaan Portugis bernama Demak Tegis atas perintah Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi). Istana yang dikelilingi oleh danau buatan ini merupakan tanda penghormatan kepada istri-istrinya karena telah membantu selama masa peperangan . 

Selain itu, disini ada kolam pemandian yang dibagi tiga yaitu Panguras (kolam untuk Raja), Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Kawitan (kolam untuk putra-putri raja).

Bagi kalian yang berkunjung ke Yogyakarta, bahkan baru pertama kali kesini. It’s recommended ! sebagai wisata sejarah.  Banyak pengetahuan baru yang dapat kita ambil dari menjelajah sejarah dibangunan ini. Apalagi jika memakai jasa pemandu, kalian bisa tahu lebih dalam lagi peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada zamannya.



Salam Traveller 😍

Thursday, 16 November 2017

Uniknya Pantai Depok, Yogyakarta


Pantai Depok

Pantai Depok? Di Jogja? Memang ada ya?
 
Setidaknya itulah pertanyaan yang sering dilontarkan bagi wisatawan dari luar Jogja. Umumnya mereka hanya mengenal Pantai Parangtritis saja. 

Lalu? Apa itu Pantai Depok? 

Pantai Depok merupakansalah satu Pantai yang masih terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pantai ini hanya berjarak 2 km dari Parangtritis. Jika kalian mengunjungi Parangtritis, retribusi sebesar Rp 10.000/motor sudah include dengan Pantai Depok. Sedangkan untuk rute menuju Pantai Depok bisa ditempuh melalui jalan alternatif yang masih dalam kawasan Parangtritis. Tidak perlu khawatir tersesat, warga sekitar tahu jalan alternatif tersebut. 

Jika kalian ingin langsung mengunjungi Pantai Depok, sebelum loket masuk Parangtritis belok kanan dan tinggal lurus saja sampai bertemu dengan gerbang Pantai Depok. Disana ada petugas yang akan meminta retribusi masuk sebesar Rp 5000/motor. Setelah melewati loket, sudah tersedia tempat parkir kendaraan roda dua maupun roda empat. Untuk biaya parkir sebesar Rp 5.000/motor. 

Ketika sampai di pantai ini, jangan kaget melihat banyak para pedagang yang memenuhi pantai. Mereka adalah nelayan yang sedang menjajahkan hasil tangkapan lautnya. Maka tak heran, pantai ini disebut juga sebagai tempat pelelangan ikan. Perahu-perahu nelayanpun banyak yang bersandar di pantai ini. 

KULINER UNIK PANTAI DEPOK
Pantai Depok menyajikan hal yang tak biasa terlihat di pantai-pantai lainnya yaitu para wisatawan bisa menyantap seafood dengan membelinya terlebihdahulu dari nelayan yang berada di pinggiran pantai dan membawanya ke pondok (baca;warung) yang sudah tersedia disekitar pantai untuk dimasak. Jadi, pondok-pondok tersebut hanya menyediakan jasa memasak saja dan kalian bisa request jenis masakannya sesuai selera dengan harga yang murah. Jangan khawatir untuk “teman” makan seafood yaitu nasi dan lalap/sambal, sudah disiapkan oleh pondoknya. 

Seafood yang dijual para nelayan cukup lengkap. Mulai dari kepiting, cumi-cumi, udang, ikan kakap, ikan bawal, dan lainnya. Keuntungan dari membeli langsung dari nelayan, kalian bisa negoisasi harga lebih murah dan juga memilih seafood yang masih segar. 

SPOT FOTO
Bagi para anak muda zaman now, spot foto memang wajib dibahas ya :). Tidak kalah menarik dari Parangtritis, disini ada icon Pantai Depok lengkap dengan patung nelayan yang sedang menjaring ikan. Icon ini secara tidak langsung menggambarkan tentang Pantai Depok yang disebut sebagai kampung nelayan. 

Selain itu, tersedia juga sewa property cantik seperti di Parangtritis dengan membayar Rp 5.000/orang untuk berswa foto. Ombak dipantai ini masih tergolong besar, foto ala-ala dipinggir pantai dengan gulungan ombak yang menghempas juga kece loh. 


Bagaimana? Masih mau membawa bekal kesini? Simpan dulu deh bekal kalian, tidak ada salahnya menikmati kuliner di Pantai Depok dengan bertransaksi langsung dengan nelayan.

Salam Traveller 😍




Monday, 13 November 2017

Hangatnya Mentari di Parangtritis


Pantai Parangtritis
 
Minggu, 7 Mei 2017. Ini adalah hari ke-3 trip di Jogja. Masih dalam edisi mantai (baca ;main di pantai). Kali ini saya hanya berdua, Karena yang lain ada kegiatan masing-masing. 

Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Masih menggunakan sepeda motor, kami langsung go ke Pantai Parangtritis yang terletak di Desa Parangtritis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Rasanya memang tidak lengkap datang di kota gudeg ini tanpa singgah di pantai yang dapat ditempuh sekitar 25 km dari Kota Jogja.  

Kami berangkat dari Malioboro dan seperti biasa hanya mengandalkan marka jalan yang mengarahkan ke Parangtritis. Jika kalian “pengamat” marka jalan, dijamin tidak akan tersesat menuju pantai ini. Bagi yang ingin naik transportasi umum, bisa naik bis dari terminal Giwangan yang akan mengantarkan sampai gerbang loket pintu masuk parangtritis. Ingat! Hanya sampai gerbang loket 😁. Jadi, kalian harus berjalan kaki lagi untuk sampai ke lokasi pantainya yang lumayan jauh. Alternatifnya bisa memakai jasa ojek. 

Kurang lebih 45 menit kami sampai di gerbang pintu masuk Parangtritis. Disana sudah ada petugas loket yang akan memberikan tiket masuk pantai dengan membayar Rp 10.000/motor dan sudah include dengan tiket masuk Pantai Depok. Dari gerbang loket jalan lurus sampai menemukan gerbang yang bertuliskan Pantai Parangtritis di sebelah kanan jalan. Tidak jauh dari gerbang ini akan ada tempat parkir kendaraan. Biaya parkir sebesar Rp 5.000/motor. Dari parkiran kalian sudah bisa merasakan hangatnya pasir pantai ini. 
 
Pantai Parangtritis

Hangatnya mentari benar-benar sampai kedalam pasir disepanjang pantai ini. Ditambah lagi, saya hanya memakai sepatu setengah tertutup. Jujur, ini sangat panas loh 😭. Saya sarankan kalau kalian ingin berkunjung kesini, baiknya memang sore hari sekaligus menikmati sunset.

Pasir Parangtritis memang tidak berwarna putih seperti pantai di gunung kidul. Namun, ombaknya yang dahsyat membuat pantai ini makin cantik. Nah, karena ombak pantai ini cukup ganas tidak disarankan untuk berenang disini. Kalaupun ingin bermain air, harus tetap waspada dengan ombak yang sewaktu-waktu bisa menggulung badan kita ke tengah laut. 

ADA APA DI  PARANGTRITIS ?
Parangtritis menyediakan ATV (All-terrain Vehicle) dengan tariff Rp 50.000-Rp 100.000, ada juga sebuah delman yang akan mengantarkan kalian menyelusuri tepian pantai dengan membayar Rp 20.000. Selain itu, tersedia juga berbagai jenis property cantik yang akan melengkapi foto-foto kece kalian disini cukup membayar Rp 5.000/orang (all property). Bagi pecinta layang-layang, angin disini cukup mendukung untuk menerbangkan layang-layang yang dijual oleh penduduk setempat disekitar pantai. 

Nah, bagi kalian yang pecinta Free alias gratisan :) disini ada icon bertuliskan Pantai Parangtritis. Kalian bisa berfoto sepuasnya. Tapi, gantian juga ya dengan orang lain yang mengantri untuk berfoto disini. Hehe….


Disekitar Pantai Parangtritis juga tersedia penginapan dengan berbagai macam tarif. Kalian bisa memilih sesuai budget.


Properti Foto Parangtritis

Rasanya sudah cukup sekitar 1 jam-an membuat kaki kepanasan dan kulit sedikit menghitam πŸ˜….  Masih ada satu pantai lagi di list destination kami yang wajib dikunjungi yaitu Pantai Depok.
Ada apa di Pantai Depok? Next post …..

Salam Traveller 😍

Sunday, 12 November 2017

"Surga" Tersembunyi di Gunung Kidul




Pantai Wedi Ombo

 Apa yang ada dibenak kalian ketika dengar kata surga?
Pastilah sebuah tempat yang indah dan didambakan oleh semua makhluk Tuhan. Lalu? Apa yang dimaksud dengan surga tersembunyi di Gunung Kidul? Ini hanya sebuah konotasi. Surga yang dimaksud disini adalah sebuah pantai yang sangat indah dan masih asri, dimana pantai tersebut terletak jauh dari keramaian dan aksesnya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Hari ini merupakan trip di hari ke-2 (6 Mei 2017) khusus untuk menjelajah pantai di daerah Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. List destination tertuju ke Pulau Kalong. Sedikit mengulas mengenai Pantai Kalong dan alasan saya ingin berkunjung ketempat ini. Awalnya saya mengetahui Pulau Kalong dari internet. Nama Kalong itu sendiri karena pulau tersebut dulunya dihuni oleh banyak kalong (kelelawar). Selain kalong, burung gelatik juga menghuni pulau ini. Terkadang, pulau ini disebut juga dengan Pulau Gelatik. Kini Pulau Kalong menjadi spot pemancingan karena banyak lobster dan ikan cucut. Pulau kalong dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung yang beralasakan papan. Nah, karena ingin melihat langsung Pulau Kalong itu seperti apa dan sekaligus uji nyali melalui jembatan gantung, inilah alasan saya tertarik untuk mengunjunginya.

Kami memulai perjalanan dari Malioboro dengan menggunakan kendaraan sepeda motor dan bermodalkan google serta bertanya dengan orang ditemui dijalan untuk sampai ke Gunung Kidul. Perjalanan dari Malioboro menuju Gunung Kidul memakan waktu kurang lebih 3 jam. Cukup takjub ketika sampai didaerah Gunung Kidul. Sebuah daerah perdesaan yang masih asri dan juga jarak desa yang berjauhan. Wilayah ini termasuk sepi dan jarang penduduk. Bagi kalian yang akan membawa kendaraan jangan lupa untuk cek dan service dulu, karena perjalanan menuju pantai-pantai di Gunung Kidul turun naik. Sebenarnya, dari terminal Jombor ada bus yang menuju Wonosari. Namun, bus tersebut tidak menjangkau gunung kidul. Jadi, disarankan bagi kalian yang ingin kesini lebih baik membawa kendaraan pribadi. 

Ketika sampai di kawasan Gunung Kidul banyak marka jalan yang mengarahkan ke kawasan pantai. Jadi, tidak perlu khawatir tersesat disini. Sedikit info, ternyata pantai-pantai di Gunung Kidul ini mencapai puluhan. Banyak juga ya :)
Kembali ketujuan awal, Pulau Kalong. Ada beberapa pantai yang searah dengan Pulau Kalong yaitu Pantai Wedi Ombo, Pantai Jungwok, Pantai Greweng, Pantai Sedahan, dan Pantai Sinden. 

PANTAI WEDI OMBO

Pantai Wedi Ombo

Hasil dari google dan juga bertanya pada warga setempat. Kami mengunjungi Pantai Wedi Ombo terlebih dahulu, karena dalam urutan Pulau Kalong ada di list terakhir. Masuk Pantai Wedi Ombo tidak dikenakan biaya, hanya cukup membayar parkir sebesar Rp 2.000/motor. Mengulas mengenai Wedi Ombo, pantai ini termasuk recommended bagi kalian yang membawa anak kecil. Jarak dari parkir menuju pantai tidak jauh, hanya sekitar 100 meter saja. 

Pantai ini masih asri dengan hiasan kerang-kerang yang berbalut dihamparan pasir putih dan ikan kecil yang ada digenangan sela-sela batu. Air lautnya pun sangat bening. 
Disini juga tersedia cottage bagi wisatawan yang akan bermalam.


PANTAI JUNGWOK

Pantai Jungwok

Pintu masuk Jungwok berbeda dengan Wedi Ombo, Namun, Ketika di wedi ombo, ada papan petunjuk yang mengarahkan menuju Pantai Jungwok. Kurang lebih 1 km dengan akses yang cukup luar biasa melewati jalan setapak, sawah-sawah, sungai dan sedikit bukit kecil. Sama seperti Wedi Ombo, kalian cukup membayar parkir sebesar Rp 2.000 saja. Karena kami berjalan kaki, jadi free πŸ˜…

Sesampainya di Jungwok, kami cukup kaget melihat pondok kecil (baca;warung) yang baru buka di jam 2 siang. Ternyata pantai ini lebih ramai sore sampai malam, apalagi waktu itu pas di hari sabtu (malam minggu) banyak anak-anak muda yang camping di pantai ini. Benar juga sih, ketika sampai di sini berasa pantai pribadi. Seppiiii….pengunjung hanya ada kami ber-4 saja. Pantai Jungwok ini masih termasuk pantai dengan pasir putih yang cukup luas. Ombaknyapun cukup deras. 

PANTAI GREWENG

 
Pantai Greweng


Setelah dari Pantai jungwok perjalanan belum usai. Pulau Kalong masih harus dicapai dengan melewati Pantai Greweng. Menuju Pantai Greweng itu sendiri masih harus ditempuh dengan memasuki jalan setapak yang kanan kirinya seperti perkebunan milik warga bahkan menaiki tanjakan kecil. Ingat ya, ini benar-benar jalan setapak dan hanya akses inilah untuk mencapai Pantai Greweng. Jika musim hujan, sudah dipastikan akses ini sangat licin dan becek.

Kurang lebih 20 menit (versi kami) sampailah di Pantai Greweng. Woww….ini benar-benar salah satu surga tersembunyi Gunung Kidul. Kami disambut dengan hamparan pasir putih yang halus dan sedikit aliran air dari pantai. It’s Amazing ! Ciri khas dari Greweng yaitu dua buah batu besar seolah mengapit pantai. Suasananya pun sangat sejuk. Rasa lelah berjalan kaki ratusan meter terbayarkan lunas. Sama halnya dengan Wedi Ombo dan Jungwok, Greweng tidak ada tiket masuknya. 

PULAU KALONG

Pulau Kalong

Hanya 10 menit di Greweng, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju Pulau Kalong. Menurut cerita si mpu warung, sebelum kami meninggalkan Greweng. Pulau Kalong harus menaiki bukit dengan akses jalan setapak. Sebelum mencapai Pulau Kalong, akses terakhir melalui Pantai Sinden.  

Okay! Benar kata si mpu warung, akhirnya kami menaiki bukit yang cukup terjal. Akses kali ini sangat ekstrim dan menanjak. Sedikit saja tidak hati-hati nyawa taruhannya.
Dan…. kami salah jalan. Tepatnya salah belokan. Seharusnya masih lurus, tapi kami turun bukit yang mengarahkan ke Pantai Sedahan (kata papan petunjuk). Sayangnya pantainya sudah tidak ada lagi, sepertinya abrasi. Namun, sekitar pantai ini masih ditumbuhi cukup banyak pohon bakau yang sangat subur-subur.

Dari kejauhan terlihat seperti 2 batu besar yang saling berhadapan (seperti difoto). Nah, sebelah kiri adalah Pulau Kalong dan kanannya merupakan bukit yang dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung.

Waktu yang sudah sangat sore untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Kalong. Teman-teman yang lainpun sudah terlihat lelah. Jadi, kami putuskan untuk kembali ke parkiran dan pulang ke Jogja. Setidaknya pernah melihat pulau ini meski dari kejauhan. Semoga lain waktu berkesempatan untuk menginjakkan kaki di Pulau Kalong πŸ˜ƒ

Salam Traveller 😍

Saturday, 11 November 2017

Kecantikan Monjali di Malam Hari


 
Taman Lampion Monjali

Masih di hari Jum’at, 5 mei 2017. Ini merupakan trip ke-3 setelah seharian menjelajah Borobudur  dan Prambanan. Sepulangnya dari Prambanan, kami kembali ke penginapan untuk ISHOMA. Pukul 19.00 kami lanjut ke Monumen Jogja Kembali (Monjali) yang berada di Jalan Ring Road Utara Sleman, Yogyakarta dengan menggunakan jasa transportasi taksi online.  

Monjali merupakan museum wisata sejarah yang bisa dinikmati pengunjung dari pukul 08.00 s/d 16.00 WIB. Dikawasan Monjali ini terdapat taman pelangi yang begitu indah di malam hari. Tempat ini lebih dikenal dengan sebutan taman lampion. Warna-warni lampu lampion yang menghiasi disetiap sudut taman ini menarik para wisatawan untuk menikmati malam disini.

Selain menikmati indahnya lampion, tersedia juga berbagai macam wahana seperti bom-bom car, bola air, becak mini, safari train, helicak, dan lainnya dengan harga yang bervariasi. Khusus hari minggu, wahana permainan buka dari pagi.
Taman lampion monjali merupakan salah satu alternatif bagi kalian yang ingin menikmati suasana malam yang sejuk dan santai, bahkan hanya untuk melepas penat. Disini tersedia kursi-kursi untuk pengunjung yang ingin duduk-duduk dan juga berbagai kuliner. Spot fotonya pun menarik kamera wisatawan untuk bergaya kece.

Mata dan kaki kami sudah tak sanggup lagi untuk mengelilingi taman lampion. Tak lama kamipun keluar dari area taman dan kembali ke penginapan.

Bagi kalian yang akan berkunjung ke Jogja, jangan lupa tulis taman lampion di list trip kalian. It's recomended !

Jadwal  Taman Lampion :
Senin s/d Kamis        : Buka pukul 17.00-22.00 WIB. HTM Rp 15.000/orang.
Jum’at s/d Minggu   : Buka pukul 17.00-23.00 WIB. HTM Rp 20.000/orang.
Libur Nasional           : Buka pukul 17.00-23.00 WIB. HTM Rp 20.000/orang.

Salam Traveller 😍

Menjelajah Candi Prambanan


Candi Prambanan


Sukses menjelajah Candi Borobudur ala backpacker alias ngeteng. Kini saatnya menjelajah Candi Prambanan atau disebut juga dengan Candi Roro Joggrang yang terletak di Sleman, Yogyakarta. Membeli tiket include Borobudur+Prambanan menjadi penyemangat agar hari ini bisa sampai ke Prambanan. Dari Terminal Borobudur naik bis jurusan Terminal Jombor. Biaya yang dikeluarkan sama seperti Jombor-Borobudur hanya Rp 20.000/orang. Setibanya di Terminal Jombor, kami melanjutkan perjalanan menuju Prambanan dengan Trans Jogja No.2 B dengan rute yang dilewati Halte Condong Catur (transit naik No.3B) >> Halte Marguo (transit naik 1 A) >>  Halte prambanan. Biaya Trans Jogja juga masih sama Rp 3.500/orang sampai ke halte tujuan. Jangan lupa, kalau pakai kartu Flazz akan lebih murah (bukan sponsor loh) hehe….

Next, tiba di halte prambanan kami langsung diserbu oleh para ojek motor yang sudah menyiapkan kendaraannya untuk mengantarkan ke Candi Prambanan. Mereka menawarkan harga berkisar Rp 10.000 s/d Rp 20.000 untuk 1 orang per motornya. Karena sebelumnya saya baca di google jarak halte prambanan menuju candi tidak jauh, jadi kami berjalan kaki saja. Menghindar dari para ojek motor termasuk hal yang sulit juga, sampai keluar area halte masih saja ada yang menawarkan jasa ojeknya. Tapi, kami tetap menolak dengan lembut. 

Setelah terhindar dari para jasa ojek, kami melanjutkan perjalanan menuju Prambanan dengan menyebrang dari depan halte. Didepan halte sudah terlihat jelas pagar besi berwarna hitam. Pagar tersebut merupakan area yang mengelilingi Candi Prambanan. Kami terus berjalan menelusuri disisi pagar, sampai menemukan papan yang mengarahkan untuk masuk ke area candi. Jarak dari halte ke Prambanan sekitar 500 meter. Cukup dekat kan? Lumayan untuk pemanasan sebelum meneliingi candinya. Hehe….
Jangan bahagia dulu, jarak itu baru sampai pintu gerbang masuk saja loh! Dari gerbang masuk menuju loket utama sekitar 500 meter lagi. Jika kalian menggunakan jasa ojek bisa diantarkan sampai pintu loket. Tiba depan loket, kami hanya menunjukkan tiket yang telah dibeli include di Borobudur tadi. Harga normal masuk Prambanan sama dengan Borobudur yaitu Rp 30.000. Setelah melewati petugas checking, kami mulai menjelajah di Candi  Prambanan. Candi Prambanan berbeda dengan Candi Borobudur. Prambanan yang merupakan candi peninggalan Hindu terbesar di Indonesia berbentuk kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Selain itu, Prambanan merupakan salah satu candi termegah di Asia Tenggara yang mempunyai daya tarik wisatawan dari seluruh dunia. 

Candi Prambanan

Jika kalian ingin mengetahui sejarah detail disetiap candi, Prambanan menyediakan lokal guide untuk menemani berkeliling dikompleks candi sekalgus menjelaskan satu per satu sejarah yang terjadi di Candi prambanan ini. Masalah biaya, bisa kalian nego sendiri.
Para traveller yang tidak mau meninggalkan moment bahagia di Candi ini, tenang….spot foto disini juga tidak kalah cantik dengan Borobudur. Dari tulisan besar yang bertuliskan “Candi Prambanan”, Taman cantik dengan background kompleks candi dan masih banyak lainnya. Hal terpenting, siapkan kamera dan gaya kece kalian.

Udara sore hari di Candi Prambanan cukup sejuk. Tapi, jika ingin melihat sunset lebih indah di Candi Ratu Boko. HTM (Harga Tiket Masuk) ke Candi Ratu Boko lebih murah dari Prambanan dan Borobudur yaitu Rp 25.000/orang. Tiket menuju Ratu boko bisa dibeli include juga dengan Prambanan. Jarak dari prambanan ke Ratu Boko sekitar 1 km. Untuk menuju Ratu Boko juga sudah disiapkan shelter bis dari Prambanan (keberangkatan terjadwal). Jika kaki kalian masih kuat, bisa ditempuh juga dengan berjalan kaki . Sayangnya, kami tidak berkunjung kesana. Karena waktu sudah sore dan memang tidak ada dilist juga. Lagi pula, setelah ini masih ada trip selanjutnya. Hehe… 

Setelah puas mengelilingi Prambanan, kami langsung menuju pintu keluar. Sama seperti Borobudur, pintu keluar berbeda dengan pintu masuk dan cukup jauh juga berkeliling. Bedanya, pintu keluar Prambanan tidak seheboh Borobudur yang dihuni oleh para pedagang “oleh-oleh”. Disini lebih banyak pedagang yang menawarkan minuman ringan. Lelah mulai menghampiri. Maklum, hari ini didominasi dengan jalan kaki mengelilingi candi dari pagi. Kamipun tidak sanggup lagi berjalan kaki menuju halte. Akhirnya, kami menggunakan jasa ojek yang ada di sekitar Prambanan. Belum juga melakukan negoisasi, Ojek motornya sudah menawarkan harga Rp 5.000 untuk sampai ke Halte Prambanan. Harga ini sebandinglah dengan jarak yang ditempuh dan pastinya lebih murah dari harga yang ditawarkan saat hendak berangkat tadi. 
 
Candi Prambanan

Kami melanjutkan perjalan pulang menggunakan Trans Jogja dengan rute yang menuju Malioboro. Kali ini hanya 1 x transit. Perjalanan dari Prambanan ke Malioboro kurang lebih sekitar 1 jam-an. Setibanya di halte Malioboro, kami lanjutkan jalan kaki menuju Hotel Ismoyo untuk beristarahat sebelum trip selanjutnya.


 Salam Traveller 😍